Breaking News

PEMA dan Seni Menyulap Rugi Jadi Panggung Kebanggaan

 


Aceh
- Di dunia normal, kalau beban operasional lebih besar dari pendapatan, itu namanya rugi. Tapi di dunia PT PEMA, itu namanya "capaian luar biasa yang perlu disyukuri". Pendapatan usaha cuma Rp17,4 miliar, beban Rp33,9 miliar—defisit nyata—tapi tetap saja dividen Rp28,76 miliar mengalir deras ke kas daerah. Kalau ini bukan sulap, mungkin ini semacam agama baru: percaya saja, jangan tanya dari mana asalnya.

Antara Dinas dan Piknik

Biaya perjalanan dinas naik dari Rp2,5 miliar ke Rp75 miliar hanya dalam hitungan bulan. Kalau ditanya untuk apa, jawabannya biasanya seragam: "koordinasi strategis", "kunjungan kerja", "membangun jejaring". Tapi kalau jejaringnya dibangun sambil rugi puluhan miliar, mungkin yang terbangun bukan jejaring bisnis, melainkan jejaring alasan.

Kopi Pahit, Ikan Amis, Laporan Manis

Investasi kopi dan perikanan rugi miliaran, tapi tetap dibingkai sebagai "langkah diversifikasi visioner". Padahal kalau tiap tahun rugi, itu bukan visi—itu kebiasaan. Herannya, kebiasaan rugi ini justru dirayakan seolah pencapaian, sementara masyarakat cukup diberi angka dividen sebagai penenang.

Dividen: Obat Penenang Publik

Dividen naik tiap tahun memang benar. Tapi menyembunyikan defisit operasional di balik dividen itu ibarat menutupi rumah bocor dengan cat baru di temboknya—kelihatan rapi dari luar, tapi atapnya tetap basah kuyup.

Penutup

Kalau kerugian operasional bisa terus dibungkus jadi prestasi, dan pemborosan dibungkus jadi strategi, maka publik Aceh berhak bertanya lantang: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari kabut angka ini? Selama tidak ada audit independen yang benar-benar dibuka ke publik, euforia dividen ini hanya akan jadi tirai penutup masalah struktural yang makin lama makin dalam.

Kalau rugi terus dianggap wajar asal ada dividen, jangan salahkan publik kalau lama-lama curiga: mungkin yang sedang dijaga bukan perusahaannya, tapi citranya saja.

#HDP | 25/7/2026

 Jep kupi bek pungo.

Tidak ada komentar