Breaking News

Alergi Audit, Oknum Wakil Rakyat Malah Cari 'Mantan': Ditantang Sumpah oleh Tri Nugroho, Malah Mengamuk di Sosmed



BANDA ACEH — Panggung politik dan pengawasan anggaran di ibu kota Serambi Mekkah kembali menyuguhkan komedi segar yang mengocok perut sekaligus mengurut dada. Kali ini, lakon utamanya adalah seorang oknum anggota DPRA dari Fraksi NasDem berinisial M, yang mendadak menjadi sorotan setelah diterjang badai tuduhan terkait dugaan cipratan dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) pembangunan daerah.

Sebagai seorang legislator yang duduk di kursi terhormat parlemen Kuta Alam, publik tentu berharap respons yang keluar mencerminkan kelasnya sebagai wakil rakyat tingkat provinsi. Namun, respons yang muncul justru jauh dari panggang api ketika Sekretaris Dua Satgas PPA, Tri Nugroho, secara terbuka melempar tantangan pamungkas yang membuat bulu kuduk merinding Sumpah Mubahalah.

Sebuah tantangan sumpah laknat yang taruhannya bukan lagi rompi oranye, melainkan kutukan langit hingga anak cucu, dilayangkan langsung oleh Tri Nugroho demi menguji sejauh mana nyali sang srikandi dewan dalam mempertanggungjawabkan integritasnya di pusat pemerintahan Aceh.

Ketika Transparansi Wakil Rakyat Kalah oleh Urusan 'Mantan'

Bukannya fokus menjawab tantangan dari Sekretaris Dua Satgas PPA tersebut dengan menyajikan dokumen audit keuangan, rekening koran, atau sertifikat fisik proyek sebagai bukti kesucian diri, oknum parlemen ini justru terpantau "panas dingin" di media sosial.

Lewat jempolnya di jagat Facebook pada Jumat (22/5), M malah sibuk mengulik silsilah keluarga dan latar belakang personal sang penantang. Narasi yang dilempar pun tak kalah puitis membawa-bawa status Tri Nugroho sebagai "mantan suami orang", lengkap dengan ancaman kalimat yang cukup provokatif, "Tunggu, akan kita sikat satu-satu."

Sungguh sebuah plot twist yang membagongkan. Urusan anggaran negara yang melekat pada fungsi kedewanan tingkat provinsi, mengapa penyelesaiannya harus belok ke arah gosip domestik dan urusan asmara masa lalu? Apakah akuntabilitas publik seorang anggota dewan terhormat sekarang diukur berdasarkan siapa mantan suami siapa?

Sarkasme Hari Ini Jika pembuktian bersih-tidaknya seorang wakil rakyat dari dugaan kongkalikong dana Pokir diukur dari kemampuan mengulik status pernikahan orang lain, maka kita tidak lagi butuh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Cukup rekrut admin akun gosip lambe-lambean sebagai auditor daerah.

Menanti Nyali Terhormat di Atas Mimbar Mubahalah

Publik tentu paham, sumpah mubahalah adalah urusan berat. Di tanah Aceh, jangankan yang diduga bermain anggaran, orang jujur pun berpikir seribu kali untuk mengucapkannya jika tidak benar-benar terdesak. Namun bagi seorang anggota dewan terhormat yang mengklaim dirinya "bersih sesuai regulasi," tantangan dari Tri Nugroho ini seharusnya menjadi karpet merah untuk menampar balik tuduhan dengan pembuktian spiritual yang jantan di hadapan publik Banda Aceh.

Jika sang legislator memang tidak memakan uang Pokir sepeser pun, mengapa harus repot-repot mengetik ancaman "sikat satu-satu" di kolom komentar Facebook? Sikap reaktif yang mempertontonkan amarah di ruang digital ini justru membuat publik makin menaruh curiga: *Apakah ini taktik defensif karena panik, atau memang murni komedi ego belaka?

Gedung Dewan itu Hukum, Bukan Panggung "Sikat-Sikatan"

Kita perlu mengingatkan oknum Fraksi NasDem ini, bahwa kursi DPRA diperoleh lewat suara rakyat untuk mengurus hukum dan kesejahteraan Aceh, bukan untuk ajang gertak sambal di media sosial. Jika merasa difitnah, bersihkan nama dengan transparansi data. Menggunakan diksi premanisme digital seperti "akan kita sikat" kepada Sekretaris Dua Satgas PPA justru berpotensi membalikkan keadaan menjadi bumerang hukum baru bernama UU ITE.

Rakyat sudah lelah dengan infrastruktur daerah yang rusak dan anggaran yang diduga menguap. Jangan lagi suguhi konstituen dengan tontonan wakil rakyat yang mengamuk di Facebook saat dikritik dan ditantang sumpah oleh lembaga pengawas pembangunan. Kita tunggu saja, apakah srikandi berinisial M ini punya nyali untuk menjabat tangan Tri Nugroho di atas mimbar sumpah laknat, atau komentarnya kemarin hanya sekadar bumbu penyedap dari sebuah kepanikan.

Tidak ada komentar